Seorang Lelaki Sanggup Berpenampilan Seperti Wanita Selama Lebih dari 20 Tahun Untuk Menjaga Seorang Wanita Tua yang Sudah Tidak Berdaya

 

Seorang pria paruh baya di Guilin, Provinsi Guangxi, China, telah berpenampilan sebagai seorang wanita selama lebih dari 20 tahun, demi kebaikan ibunya.

Ternyata, pria tersebut memiliki adik perempuan yang meninggal sekitar 20 tahun lalu akibat kecelakaan. Setelah kejadian itu, ibunya sangat sedih dan kesehatan jiwanya pun terganggu.

Loading...

Orang-orang terdekatnya berpendapat, bila sang ibu bisa bertemu kembali dengan anak perempuannya yang telah meninggal tersebut, mungkin ia bisa sembuh. Pria itupun kemudian berdandan dan berpura-pura menjadi perempuan di depan sang ibu untuk menggantikan posisi adik perempuannya, sekaligus merawat sang ibu.

Untuk biaya hidupnya dan sang ibu, ia hanya mengandalkan penghasilan yang sedikit dari meniup seruling. Walaupun harus berpenampilan sebagai wanita,  ia tidak peduli apa kata orang, karena menurutnya itu adalah urusan pribadinya.

JIka orang-orang keberatan, maka tidak usah menghiraukannya.

Foto-fotonya kemudian menjadi viral di internet dan mengundang banyak komentar netizen. Banyak netizen yang memuji kerelaannya untuk berpenampilan sebagai wanita demi kesehatan sang ibu.

Loading...

Ada juga yang menganggap bahwa ia cukup cantik ketika berpenampilan sebagai wanita, walaupun sebenarnya ia adalah seorang pria. Namun, ada pula komentar negatif yang mengatakan bahwa sang ibu telah merampas kebebasan sang anak laki-laki.

Sumber: Distractify

 

 

Wanita Ini Kemalangan dan Menyebabkan Dia Lumpuh Hampir Seluruh Badan. Dalam Keadaan Begini, Suaminya Lari dan Kahwin Lain Menyebabkan Dia Keseorangan Diri Sehinggalah…

 

 

Suami saya dan saya adalah orang pedesaan, kami tidak berpendidikan tinggi, dan saya  kenal dan menikah dengan suamiku, melalui mak comblang. Saat itu, suamiku memberi kesan bahwa ada karakter yang sangat lucu, selain itu, dapat memberikan kenyaman yang sangat kuat saat itu.

Setelah menikah, kami membuka toko kelontong di desa, hidup kami sederhana dan tidak berkekurangan. Namun ini bagiku ini sudah lebih dari cukup.

Suamiku adalah keluarga orang tua tunggal, di usia delapan tahun, ibunya meninggal karena kanker. Meski keluarganya tidak kaya, tapi ayahnya sangat bagi kepadaku, memperlakuakan saya seperti putrinya. Belakangan, suamiku dan Li, tetangga dari desa kami pergi ke luar kota untuk berbisnis.

Loading...

Padahal, sang ayah dan saya sangat menentangnya untuk pergi, karena semenjak kami menikah kami belum pernah berpisah, dan ayahnya beranggapan kami masih berkecukupan, tidak perlu sampai kerja ke luar kota.

Namun, suamiku mengatakan ingin memperbaiki lingkungan hidup di rumah, dan mau menyediahkan masa depan untuk anak kami, akhirnya saya setuju. Enam bulan kemudian, kami mendapat kabar baik dari tetangga desa, mengatakan bahwa suami saya mendapat penghasilan yang cukup banyak sudah siap untuk kembali ke desa.

Bisa mendapat penghasilan memang bagus, tapi sebenarnya saya hanya berharap suamiku bisa aman-aman saja! Bagiku itu sudah lebih dari cukup.

Kami menjual toko kelontong kami, dan kemudian membuka sebuah restoran kecil di sekitar desa tempat kami tinggal, juga membeli sebuah truk kecil. Bisnis kami semakin meningkat,.

Meski kami harus bekerja keras, tapi karena sebuah kebersamaan, kami bahkan tidak merasakan capek atau apapun. Namun sayang sekali, hidup bahagia seperti itu tak bertahan lama. Suatu malam, suami saya dan saya pulang ke rumah. Hanya karena menabrak lampu jalan yang rusak, truk mobil kehilangan kontrol, dan menabrak palang. Waktu itu saya tidak merasakan kesakitan apa-apa dan kemudian pingsan.

Setelah sadar, saya terbaring di tempat tidur. Suamiku hanya mengalami trauma dan luka di kulit, tapi saya?  bagian bawah tubuh saya lumpuh karena pecahnya tulang belakang dan tidak bisa bergerak. Meski dokter mengatakan ada harapan untuk sembuh, tapi peluangnya  sangat kecil, saya harus memakai kursi roda. Saya menangis putus asa, dan memiliki kemauan bunuh diri.

Ayah mertua dan suamiku terus-terusan menghibur dan memberi semangat, sambil berkata: kami tidak akan meninggal kamu sendiri, kami akan terus menemani kamu sampai kapanpun.

Kemudian saya diperbolehkan pulang, ayah mertua dan suamiku secara bergilir merawat saya, setiap hari mengajak aku ngobrol. Seiringnya waktu 3 bulan kemudian berlalu. Suatu hari ayah mertua, marah sambil membawa sepucuk surat dan berkata: suamimu meninggalkan surat, ia telah jatuh cinta dengan seorang janda yang tinggal di sebelah desa, karena kamu lumpuh ia merasa terganggu, maka mereka berdua kawin lari…

Saya terpukur dengan berita ini, saya tidak bisa tidur selama beberapa hari, bahkan makan saja gak selera. Namun, sang ayah mertua tetap setia menemaniku dan menjagaku, dan memberi semangat, berkata: “Nak, hidup itu memang susah, tapi ingat tidak akan ada tantangan yang tak bisa dilewati. Kamu harus percaya diri … …”

Saya tersentak dan menangis. Setelah suamiku pergi, aku dan ayah kembali ke pedesaan. Saat itu, gosip tersebut sudah tersebar dimana-mana. Namun, sang ayah tidak keberatan, tetap hati-hati menjagaku.

Selain menjual sayuran di pasar, ia juga menabung uang untuk biaya kehidupan saya. Tiga tahun kemudian, karena ayah mertua merawat saya dengan hati-hati, akhirnya saya bisa berdiri dan berjalan.

Sekarang, saya membuat kerajinan tangan dan menjual ke pasar.. Berkat ayah mertua saya dapat bangkit kembali memulai hidup baruku!

Tega banget sang suami meninggalkan istrinya di saat seperti itu… Untung ada ayah mertua yang berhati mulia.

Sumber: Pxp

Loading...